Breaking News

KDKS 01 : Pengantar Umum

Paus Fransiskus memegang Evangeliarum

ABC Alkitab : Ambil, Baca, dan Cintai Alkitab !
Dalam bukunya berjudul Confessionnes, St. Agustinus menceritakan bahwa ketika duduk di sebuah taman, tercenung dalam pergulatan untuk menerima iman akan Kristus, ia mendengar suara seorang anak yang sedang bernyanyi : “tolle, lege, tolle lege”, artinya “ambil, baca, ambil, baca”. Dia pun segera mengambil Alkitab, mulai membacanya, dan hidupnya pun berubah selamanya dalam cinta akan Sabda Tuhan. Karena itu, dalam pertemuan-pertemuan Kursus Dasar Kitab Suci ini kita akan dihantar untuk mengenal Alkitab supaya kita semakin mencintai Sabda Allah.

Kisah-kisah dalam Alkitab : mitos, fiksi atau fakta ?
Kata ‘Alkitab’ (Bible) berasal dari kata Yunani biblos yang berarti ‘tulisan’ atau ‘buku’. Bagi kita, Alkitab adalah Firman Allah: dengan Sabda-Nya, Allah berinisiatif untuk mengkomunikasikan diriNya pada manusia. Komunikasi diri Allah inilah yang disebut sebagai “Pewahyuan”. Mula-mula lewat perantaraan para Nabi, Pewahyuan diri Allah berpuncak dalam diri Yesus Kristus (bdk. Ibr 1:1-4). Tanggapan manusia atas pewahyuan diri Allah disebut sebagai “Iman”. Alkitab memberi kesaksian tentang hubungan antara Allah dan manusia ini : tawaran keselamatan dari Allah sepanjang sejarah dan tanggapan manusia, suatu hubungan yang diwarnai oleh kesetiaan dan penyangkalan menuju kebebasan dan cinta.

Mengapa Alkitab disebut “Perjanjian” serta apa bedanya “Lama” dan “Baru”?
Hubungan Allah dengan Manusia dalam Alkitab digambarkan sebagai suatu relasi dalam Perjanjian, di mana ada kesepakatan-kesepakatan tertentu yang berdampak pada masing-masing pihak: di satu pihak Allah memelihara, melindungi dan memberi kesejahteraan kepada manusia; di lain pihak manusia menyembah dan berbakti kepada Allah (bdk. Kel 19-24). Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Lama mengisahkan ikatan perjanjian Allah dan manusia yang pertama, yaitu dengan orang-orang/bangsa Yahudi. Ikatan perjanjian ini didasarkan pada kurban persembahan/binatang kurban. Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Baru mengisahkan ikatan perjanjian Allah dan manusia yang terakhir, yaitu dengan semua manusia dan segala bangsa. Ikatan perjanjian ini didasarkan pada kurban diri Yesus Kristus.

Apa perlunya mencintai Alkitab?
Alkitab adalah buku iman yang bermakna bagi orang-orang yang mencari kebenaran dan kehendak Tuhan sepanjang hidup mereka :

  • Membaca Alkitab memberi kita kekuatan di kala gelisah dan membantu kita mengatasi godaan-godaan dosa, membawa kita pada kegembiraan, kedamaian, kebahagiaan dan kebijaksanaan.
  • Dengan tekun membaca Alkitab, umat beriman akan semakin mengenal jalan kebenaran dan keselamatan yang ditawarkan Allah dalam Yesus Kristus. St. Hieronimus mengatakan: “Barangsiapa tidak mengenal Alkitab, ia tidak mengenal Kristus”.
  • Rasul Paulus mengatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16).

Bagaimanakah sejarah penulisan Alkitab ?
Alkitab pertama-tama adalah buku iman yang berisi tentang kesaksian iman akan karya keselamatan Allah. Awalnya diwariskan secara lisan, kisah kesaksian ini kemudian dituliskan. Kisah-kisah ini dituliskan dalam Kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani. Kitab-kitab tersebut ditulis dengan berbagai macam gaya sastra oleh sejumlah penulis yang tidak kita kenal. Penulisan tersebut terjadi dalam jangka waktu sekitar satu millenium, sekitar 2000-3000 tahun yang lalu, yang zaman dan kebudayaannya tidak kita kenal dengan baik saat ini. Maka pandanglah Alkitab bukan sebagai satu buku/kitab saja, namun sebagai suatu perpustakaan dari buku-buku kuno yang masih tetap bermakna bagi orang zaman sekarang.
Penulis Alkitab yang pertama kali disebutkan adalah Musa. Ia hidup sekitar tahun 1400-an sM atau 1200-an sM : “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel” (Kel 34:27). Pada masa Daud bertakhta sebagai raja, para pejabat istana mulai mencatat sejarah bangsa Yahudi – termasuk kisah-kisah yang telah diwariskan secara turun temurun. Hal ini semakin berkembang pada zaman pemerintahan Salomo. Empat ratus tahun setelah Daud, para penyerbu menghancurleburkan Kerajaan Yehuda. Dan pada tahun 586 sM, orang-orang yang selamat dibuang ke daerah Babylonia. Orang Yahudi tidak bisa lagi mengungkapkan iman mereka dengan ibadat dan persembahan korban di Bait Allah Yerusalem. Cara terbaik yang bisa mereka lakukan untuk bertahan dalam iman adalah dengan membaca tulisan-tulisan suci sebagai sebuah tindakan ibadat. Dari situlah muncul penghormatan yang mendalam akan kekuatan dan daya hidup dari tulisan-tulisan suci. Meskipun akhirnya pada tahun 536 sM mereka pulang dari pembuangan sehingga bisa membangun kembali kota Yerusalem dan Bait Allah, penghormatan terhadap tulisan-tulisan suci terus berlanjut. Karena itu, mulai berkembanglah Sinagoga sebagai tempat pembelajaran dan pendalaman tulisan-tulisan suci.
Pada zaman Yesus, praktik ini sudah menemukan bentuk tetapnya dalam Yudaisme : Orang Yahudi menghormati hari sabat dan taurat, serta Sinagoga menjadi tempat mendalami hukum taurat, namun pada hari-hari Raya mereka juga masih berangkat ke Bait Allah untuk mempersembahkan korban. Setelah tentara Romawi meluluh lantakkan Bait Allah pada tahun 70 M, Sinagoga mengambil alih peranan Bait Allah. Ibadah korban pun digantikan dengan pembacaan dan pendalaman Taurat. Kekristenan, yang awalnya masih dianggap sebagai sebuah ‘sekte’ dari Yudaisme, mengadopsi beberapa kebiasaan Yahudi ini. Dengan meningkatnya penganiayaan terhadap jemaat Kristen perdana dan dibunuhnya sebagai martir beberapa rasul dan para saksi mata peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, penerusan kisah kesaksian mereka  dilakukan lewat tulisan. Bahkan pemeliharaan jemaat pun dilakukan lewat surat-surat.

Alkitab itu tulisan dari Allah atau dari manusia ?
Meskipun ditulis oleh para penulis yang berbeda dalam situasi, zaman, latar budaya dan bentuk sastra yang berbeda-beda pula, setiap kitab ditulis berdasarkan inspirasi dari Roh Kudus sendiri. Dalam Kitab Suci, Allah berbicara kepada manusia dengan bahasa manusia. Kitab Suci merupakan Sabda Allah yang disampaikan melalui tulisan para penulis kitab yang ditunjuk oleh Allah untuk menuliskan hanya yang diinginkan oleh Tuhan. Namun demikian, hal ini melibatkan juga kemampuan sang penulis tersebut dalam hal gaya bahasa, cara penyusunan, latar belakang budayanya, dst. Jadi, penulisan Kitab Suci melibatkan akal budi para penulisnya. Maka jika kita ingin memahami Kitab Suci, kita perlu mengetahui makna yang disampaikan oleh para pengarang kitab dan apakah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui tulisannya. Karena Kitab Suci bersumber pada Allah yang satu, maka kita harus melihat keseluruhan Kitab Suci, walaupun ditulis oleh orang yang berbeda-beda, sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.

Bagaimana dan kapan ditentukannya tulisan-tulisan yang termasuk dalam Kitab Suci?
Untuk Perjanjian Lama, kapan penulisan kitab-kitabnya tidak diketahui secara pasti. Namun yang jelas, tulisan-tulisan Yahudi yang pertama kali diakui sebagai kitab suci adalah kelima kitab yang pertama, yang disebut sebagai kitab hukum/taurat, baru kemudian kitab para Nabi dan tulisan-tulisan lain (misalnya: Mazmur, Ayub dan Amsal). Keseluruhan proses penulisan, pengumpulan, dan penerimaan kitab-kitab Suci Perjanjian Lama ini berlangsung selama sekitar seribu tahun. Proses yang sama untuk Perjanjian Baru berlangsung lebih pendek. Kitab-kitab Perjanjian Baru semuanya ditulis dalam beberapa dekade, dan tersebar dengan cepat dan dalam jangkauan yang luas. Kitab terakhir, yaitu Wahyu, ditulis sekitar tahun 90 M.
Proses penentuan Kanon Kitab Suci, yaitu daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus dan menjadi bagian dari Alkitab, dilakukan Gereja dalam Tradisi apostolik sejak para Rasul: “Dalam tradisi apostolik, Gereja menentukan kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan "Kanon" Kitab Suci. Sesuai dengan itu, Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Lagu-lagu Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab” (KGK No. 120).
Awalnya, Kitab-kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani. Atas permintaan Raja Ptolomeus II dari Alexandria, dan juga karena perkembangan komunitas Yahudi di luar Palestina, diterjemahanlah Kitab Suci bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani oleh 70 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan Yunani ini disebut sebagai Septuaginta (kata Latin dari 70). Proses kanonisasi Septuaginta, yang terdiri dari 46 Kitab, selesai sekitar tahun 250-125 sM.
Pada zaman Yesus dan Gereja Perdana, orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dengan bahasa Aram, bahasa Ibrani hanya digunakan oleh kalangan khusus dan untuk kepentingan ibadat. Sedangkan bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di wilayah Mediterania. Maka tak mengherankan bahwa yang Alkitab yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru adalah Alkitab terjemahan dalam Bahasa Yunani. Semua kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis sejak awal dalam bahasa Yunani. Karena itu, Kanon Kitab Suci Septuaginta-lah yang dipakai Gereja Katolik sebagai Kanon Perjanjian Lama.[1] Jadi dengan ditambah Kanon Perjanjian Baru, yang terdiri dari 27 Kitab, Alkitab terdiri dari 73 Kitab.
Kanon Kitab Suci yang terdiri dari 73 Kitab ini pertama kalinya ditetapkan oleh Paus Damasus I pada tahun 382 M. Kanon ini diteguhkan dalam Konsili Hippo (Afrika Utara) pada tahun 393 M dan Konsili Karthago (Afrika Utara) pada tahun 397 M. Daftar ke-73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili Hippo dan Karthago ini dideklarasikan kembali oleh Paus Innocentius I pada tahun 405 M dalam suratnya kepada Uskup Exsuperius dari Toulouse. Kanon Kitab Suci yang terdiri dari 73 kitab ini didefinisikan secara resmi dalam Konsili di Florence pada tahun 419 M. Menanggapi Reformasi Protestan yang menganggap 7 Kitab tidak termasuk Kitab Suci, Konsili ekumenis di Trente pada tahun 1546 meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang terdiri dari ke-73 kitab tersebut. Pada tahun 1869, Konsili Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang disebutkan dalam Konsili Trente, demikian juga Konsili Vatikan II pada tahun 1965.

Mengapa Alkitab (LAI-LBI) yang dipakai Umat Katolik Indonesia terdiri dari 75 Kitab?
Dalam Alkitab terbitan LAI-LBI yang dipakai Umat Katolik di Indonesia, kita menjumpai ada 75 Kitab, padahal di atas dikatakan bahwa Kanon Kitab Suci Gereja Katolik terdiri dari 73 Kitab. Mengapa demikian? Perbedaan jumlah itu terletak pada Kitab Tambahan Ester dan Kitab Tambahan Daniel dalam kelompok kitab-kitab Deuterokanonika. Dalam Kanon 73 Kitab, dua kitab tambahan itu sudah disisipkan dalam Kitab Ester dan Kitab Daniel. Hal yang sama juga dulu dipakai dalam Alkitab bahasa Indonesia terbitan Nusa Indah Ende. Alkitab terbitan LAI-LBI mencantumkan jumlah yang berbeda karena terjemahan Kitab Suci ini adalah terjemahan ekumenis, artinya hasil kerjasama Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Karena Gereja Protestan tidak mengakui 7 kitab Deuterokanonika, maka Kitab-kitab itu ditempatkan terpisah dari kumpulan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya. Demikian juga halnya dengan Kitab Tambahan Ester dan Kitab Tambahan Daniel, keduanya ditempatkan terpisah dari kitab-kitab pokoknya dan kemudian ditempatkan dalam kumpulan kitab-kitab Deuterokanonika. Sehingga dalam Alkitab terbitan LAI-LBI yang dipakai Umat Katolik Indonesia, kita menjumpai ada 48 kitab-kitab Perjanjian Lama (39 Kitab-kitab PL kanon Ibrani [Protokanonika] ditambah 9 Kitab-kitab Deuterokanonika) dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru.

Disusun oleh
Rm. D. Dimas Danang A.W.




[1] Sekitar tahun 90-100 M, para ahli kitab Yahudi berkumpul di Yavneh/Yamnia dan menentukan 39 Kitab yang termasuk dalam Alkitab berbahasa Ibrani. Gereja-gereja Protestan memakai Kanon Yamnia ini sebagai Kanon Perjanjian Lama mereka.




Kitab-kitab PL dan PB
Pengarang dan perkiraan tahun penyusunannya

No
Nama Kitab
Otoritas/Pengarang
Perkiraan tahun penyusunan
PERJANJIAN LAMA
A
Kitab-kitab Hukum Musa
1
Kejadian
Musa
Menurut tradisi, dikarang oleh Musa setelah peristiwa Eksodus dari Mesir (sekitar 1600/ 1200 SM). Secara historis, kitab-kitab ini ditulis dalam beberapa tahapan, dalam kisaran tahun 850, 750, 650, 450 sM.
2
Keluaran
Musa
3
Imamat
Musa
4
Bilangan
Musa
5
Ulangan
Musa
B
Kitab-kitab Historis
6
Yosua
NN/ Yosua
sekitar 1200 SM
7
Hakim-hakim
NN
sekitar 1200- 970 SM
8
Ruth
NN
1000-700 SM atau sebelum abad ke-6 SM
9
1 Samuel
NN/ Samuel
sekitar abad ke-6 SM
10
2 Samuel
NN/ Samuel
sekitar abad ke-6 SM
11
1 Raja-raja
Yeremia
587 s/d sebelum 538 SM
12
2 Raja-raja
Yeremia
587 s/d sebelum 538 SM
13
1 Tawarikh
Ezra
setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM
14
2 Tawarikh
Ezra
setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM
15
Ezra
Ezra
458 SM
16
Nehemia
Nehemia
445 SM
17
Tobit
Tobit dan Tobias
350-170 SM
18
Yudit
NN
sekitar abad ke-2 SM
19
Ester (+Tamb. Ester)
Mordekhai
setelah 480/465 SM
20
Ayub
NN/ Musa
sekitar 600- 400 SM
C
Kitab-kitab Puitis dan Kebijaksanaan
21
Mazmur
Daud, Musa,
Salomo, Asaph,
bani Korah, Eman,
Ethan, NN
sekitar abad ke-8 SM
22
Amsal
Salomo
800 SM/sebelum abad ke-6 SM
s/d abad  ke-5 SM
23
Pengkhotbah
NN/Pseudo Salomo
abad ke-3 SM
24
Kidung Agung
Salomo
setelah abad ke-8 SM
25
Kebijaksanaan
NN/Pseudo Salomo
200-150 SM
26
Sirakh
Yeshua bin Sirakh
190-180 SM
D
Kitab-kitab Nubuat para Nabi
27
Yesaya
Yesaya
742-701 SM, >539 SM, <520-473 SM
28
Yeremia
Yeremia
627- <587 SM
29
Ratapan
Yeremia
sekitar abad ke-6 SM
30
Barukh
Barukh/NN
sekitar abad ke-6- 5 SM
31
Yehezkiel
Yehezkiel
sekitar abad ke-6 SM (592-570 SM)
32
Daniel (+Tamb. Daniel)
Daniel
sekitar abad ke-6 SM/ abad ke-2 SM
33
Hosea
Hosea
sekitar abad ke-8 SM (750-725 SM)
34
Yoel
Yoel
sekitar abad ke-8 SM/ abad ke-4 SM
35
Amos
Amos
791-753 SM
36
Obadiah
Obadiah
sekitar abad ke-9 SM/ ke-6 SM/ <500 SM
37
Yunus
Yunus/ NN
sekitar abad ke-8 SM/ ke-7 SM
38
Mikha
Mikha
740-695 SM
39
Nahum
Nahum
663-612 SM
40
Habakkuk
Habakkuk
610-600 SM
41
Zefanya
Zefanya
640-609 SM
42
Hagai
Hagai
520 SM (586-445 SM)
43
Zakaria
Zakaria
520-518 SM
44
Maleakhi
Maleakhi
>460 SM
45
1 Makabe
NN
134-104 SM
46
2 Makabe
NN
124-80 SM
PERJANJIAN BARU:
A.
Injil
47
Matius
Matius
50 an
48
Markus
Markus
55-62
49
Lukas
Lukas
62
50
Yohanes
Yohanes
90-100
B.
Sejarah Gereja Perdana
51
Kisah Para Rasul
Lukas
63
C.
Surat-surat Paulus
52
Roma
Paulus
57/58
53
1 Korintus
Paulus
54-57
54
2 Korintus
Paulus
57
55
Galatia
Paulus
57/58
56
Efesus
Paulus
61-63
57
Filipi
Paulus
54-57
58
Kolose
Paulus
61-63
59
1 Tesalonika
Paulus
50-52
60
2 Tesalonika
Paulus
50-52
61
1 Timotius
Paulus
65
62
2 Timotius
Paulus
66-67
63
Titus
Paulus
65
64
Filemon
Paulus
61-63
D.
Surat-surat Umum/Katolik/Pastoral
65
Ibrani
Paulus
64-67
66
Yakobus
Yakobus
sebelum 62
67
1 Petrus
Petrus
sebelum 67
68
2 Petrus
Petrus
sebelum 67
69
1 Yohanes
Yohanes
90-100
70
2 Yohanes
Yohanes
90-100
71
3 Yohanes
Yohanes
90-100
72
Yudas
Yudas
50-70
E.
Nubuat
73
Wahyu
Yohanes
60-70




PERISTIWA – PERISTIWA ALKITAB
    Kebanyakan waktu yang disebutkan adalah perkiraan.
Tahun
Sblm 2500 sM
2500 – 2000 sM
2000 – 1500 sM
1500 – 1000 sM
1000 – 500 sM
500 – 0 sM
0 – 100 M
Peristiwa -peristiwa Dunia
2550 : Piramid Agung dibangun di Giza
2000 : Epik Gilgamesh dari Babylonia, kisah tertulis yang pertama
1790 : Kitab Hukum Hammurabi dengan 282 aturan – beberapa di antaranya sama dengan hukum-hukum dari Musa
1500 : mulainya Hinduisme di India
1440 : Thutmose III (‘Napoleon dari Mesir’) berkuasa
1250 : Rameses Agung menguasai Mesir
1000 : Bangsa Fenisia menciptakan sistem huruf alfabet
776 : Penyelenggaraan Olimpiade yang pertama
323 : Alexander Agung meninggal setelah menguasai Timur Tengah
63 : Roma menguasai Yerusalem
7 : Planet Saturnus dan Uranus ada dalam posisi sejajar
Juli 64 : 2/3 kota Roma hangus terbakar – Orang Kristen disalahkan
70 : Roma menguasai Yerusalem dan Bait Allah terakhir orang Yahudi
79 : Gunung Vesupius di dekat kota Napoli meletus
Peristiwa -peristiwa Alkitab
Sebelum 4000 : Penciptaan
Sebelum 2500 : Air Bah
2100-an : Allah memberikan  janji akan tanah bagi keturunan Abraham
1800-an : Keluarga Yakub pindah ke Mesir karena adanya bencana kelaparan; keturanannya menjadi budak
1440 : (atau pertengahan 1200-an) Musa memimpin orang Ibrani keluar dari tanah Mesir
1035 : Orang Israel mengangkat Saul sebagai raja
931 : Kerajaan Israel terpecah menjadi Israel dan Yehuda
722 : Israel dikalahkan oleh Asyur
586 : Yehuda dikalahkan oleh Babylonia
536 : orang Yahudi membangun kembali Yerusalem
40 – 4 : Herodes Agung memerintah di Yudea
7 – 4 : Yesus lahir
30 : Yesus disalibkan
43 : Paulus memulai pelayanan bagi orang-orang non-Yahudi
44 : Rasul Yakobus menjadi murid pertama yang dihukum mati
67 : Paulus dihukum mati
90-an : Yohanes menuliskan kitab terakhir dalam Alkitab, yaitu Wahyu
Tokoh Alkitab
Sebelum 4000 : Adam dan Hawa
Sebelum 2500 : Nuh
2100-an : Abraham
2000-an : Ishak
1900-an : Yakub
1800-an : Yusup
1400-an : (atau 1200-an) Musa
1100-an : Samson
1000-an : Daud
900-an : Salomo
700-an : Yesaya dan beberapa Nabi Yahudi lainnya
600-an : Yeremia dan beberapa Nabi Yahudi lainnya
7-4 sM – 30 M : Yesus
Yesus
Petrus dan para Murid
Paulus
Setting bagi masing-masing Kitab
Kejadian
Kejadian
Kejadian,
Keluaran, kemungkinan Ayub
Keluaran, Imamat,
Bilangan, Ulangan,
Yoshua, Hakim-hakim, Ruth, 1-2 Samuel
1-2 Raja-raja,
1-2 Tawarikh,
Kidung Agung, sebagian besar  kitab para Nabi
Ester, Ezra, Nehemia, Maleakhi, Matius, Lukas
Perjanjian Baru

No comments